PARIWISATA DAN PELACURAN ANAK DI KEPRI

PARIWISATA DAN PELACURAN ANAK DI KEPRI
Marisa Elsera
Universitas Maritim Raja Ali Haji
Indonesia
Penulis
, , ,

Abstrak

Beberapa tahun belakangan ini, anak dan remaja putri yang dilacurkan di Indonesia semakin sering terpublikasi. Fenomena ini tentu membuat miris, terlebih Indonesia merupakan Negara yang penduduknya beragama. Namun faktanya semakin banyak remaja putri yang terjebak didalam pelacuran. Pelacuran yang dilakukan remaja putri juga tumbuh bagai jamur di musim hujan. Sebuah riset yang dilakukan Yayasan Setara misalnya, melansir angka 40.000 sampai 150.000 remaja dan anak perempuan yang melacurkan dirinya. Mereka itu adalah anak-anak yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sementara itu, tahun 1998 Statistik PBB, Unicef sudah mencatat sekitar 70.000 anak Indonesia menjadi korban pelacuran dan pornografi, 70 % diantaranya adalah anak berusia 14 tahun sampai 16 tahun.

Penyebab pelacuran anak di Kepri beragam, mulai dari letak geografis Kepri yang dekat dengan Negara tetangga, Kepri sebagai destinasi wisata, desakan ekonomi, terjerat sindikat germo, orientasi pelacuran anak bergeser menjadi kesenangan dan godaan kemewahan. Kesenangan (bersenang-senang), maksudnya mereka melacurkan dirinya bukan untuk alasan ekonomi tapi lebih kepada ingin have fun. Ini terjadi akibat interpretasi anak dan remaja yang menyimpang (dari moral dan nilai yang dianut masyarakat Indonesia) terhadap keperawanan dan hubungan seksual terlarang. Kemudian, ada pula yang melacurkan dirinya karena godaan akan kemewahan dan life style.